Laporan Microsoft 2026: AI Bikin Serangan Siber Makin Cepat dan Berbahaya
Deskripsi blog
CYBERSECURITY
Redaksi PANGKEPHUB
10/4/20261 min read


Dalam Laporan Pertahanan Digital 2026, Microsoft mengungkapkan bahwa para penjahat siber kini lebih cepat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan tim keamanan yang bertugas melindungi sistem. Dengan bantuan AI, peretas bisa lebih cepat menemukan celah keamanan, membuat program jahat (malware), dan melancarkan aksi lanjutan setelah berhasil membobol sistem. Sementara itu, tim keamanan masih kewalahan mengimbangi kecepatan tersebut.
Sebenarnya AI juga bisa menjadi senjata bagi pihak yang bertahan. Masalahnya, untuk saat ini peretas masih lebih unggul. Proses memperbaiki celah keamanan butuh waktu jauh lebih lama dibandingkan kecepatan AI menemukan celah baru. Akibatnya, dalam beberapa tahun ke depan jumlah celah keamanan yang sudah diketahui tetapi belum diperbaiki diperkirakan akan menumpuk.
Jeda waktu antara ditemukannya sebuah celah hingga celah itu dimanfaatkan untuk menyerang juga makin pendek, kini kurang dari 24 jam. Artinya, perusahaan dan instansi hanya punya waktu sangat sedikit untuk memperbaiki sistemnya sebelum diserang.
AI juga memungkinkan peretas menjalankan banyak tahapan serangan secara otomatis, hampir tanpa campur tangan manusia. Lebih mengkhawatirkan lagi, peretas pemula kini bisa melakukan advance attack yang dulu hanya mampu dilakukan oleh kelompok peretas profesional. Selain itu, AI membuat modus penipuan yang memanipulasi korban, seperti pesan atau telepon palsu yang meyakinkan (dikenal sebagai social engineering), menjadi jauh lebih ampuh.
Kelompok peretas yang didukung negara (state actor), seperti dari Tiongkok, Rusia, dan Korea Utara, juga sudah mulai memakai AI dalam operasi mereka, baik untuk mencari celah keamanan, membuat malware, maupun menipu target. Meski begitu, sebagian besar operasi ini masih mengandalkan manusia untuk mengambil keputusan penting.
Microsoft memperingatkan bahwa kita akan menghadapi masa yang cukup panjang di mana celah keamanan yang belum ditambal terus bertambah. Peretas yang punya kemampuan dan dana besar bahkan bisa "menimbun" banyak celah zero-day, yaitu celah yang belum diketahui pembuat perangkat lunaknya sehingga belum ada tambalannya, hasil temuan AI tersebut.
Karena itu, Microsoft menegaskan bahwa pihak yang bertahan harus segera memanfaatkan AI untuk mengejar ketertinggalan ini, demi melindungi sistem dan infrastruktur penting dari serangan yang makin cepat dan rumit.
Sumber:
