Dari Laut ke Meja Makan Tanpa Perantara: Bagaimana Teknologi Bisa Melipatgandakan Penghasilan Petani dan Nelayan Pangkep

OPINI

Redaksi PengkepHUB

6/14/20268 min read

a river running through a city next to a bridge
a river running through a city next to a bridge

Sebuah Cerita yang Terlalu Sering Terjadi

Pak Rasyid adalah petani tambak bandeng di pesisir Pangkajene. Setiap kali panen tiba, ia harus menjual seluruh hasil panennya kepada pungawa — perantara yang sudah lama ia kenal. Bukan karena harganya bagus, tapi karena ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak tahu siapa yang butuh bandeng hari ini, berapa harga pasarnya di Makassar, atau apakah ada restoran yang mau membeli langsung dari tambaknya.

Di sisi lain kota, sebuah restoran seafood di Makassar membeli bandeng segar dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga yang diterima Pak Rasyid. Di antara keduanya, ada beberapa tangan perantara yang masing-masing mengambil keuntungan.

Pak Rasyid bekerja keras. Restoran itu juga membayar mahal. Tapi keduanya tidak pernah bertemu langsung.

Inilah masalah yang selama ini diam-diam merugikan ribuan petani dan nelayan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).

Pangkep: Kaya Potensi, Tapi Terjebak Rantai Panjang

Pangkep bukan daerah miskin sumber daya. Dengan lebih dari 56.524 UMKM, wilayah ini adalah salah satu kabupaten dengan jumlah pelaku usaha terbanyak di Sulawesi Selatan (Abd Haris, Kadis Kop UKM Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pangkep, dikutip dalam Detik.com, 6 Desember 2023). Hampir seluruh kecamatannya memiliki potensi perikanan, dari ikan bandeng, udang, hingga rumput laut berkualitas ekspor (Dosen Manajemen Pembenihan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, Muhammad Alias, dikutip dalam Mongabay Indonesia, 4 September 2024).

Namun ada paradoks yang menyakitkan: petani dan nelayan Pangkep bekerja paling keras, tapi mendapat bagian paling kecil dari keuntungan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (Badan Riset dan Inovasi Nasional/KKP, 2014) menemukan bahwa rantai pemasaran bandeng di Pangkep terdiri dari setidaknya dua jalur distribusi berlapis:

1.Pembudidaya Pungawa Pacatto Konsumen (jalur pendek)

2.Pembudidaya Pungawa Pacatto Pagandeng Konsumen (jalur panjang)

Setiap lapisan mengambil margin keuntungan, sehingga farmer's share (porsi keuntungan yang benar-benar diterima petani) menjadi sangat kecil. Dalam konteks perikanan nasional, penelitian menunjukkan bahwa harga jual yang diterima nelayan sering kali 20–30 persen lebih rendah dibandingkan harga pasar sesungguhnya karena keterbatasan akses langsung ke pasar (Ramadhani, Bachtiar & Sabian, "Penguatan Supply Chain Management untuk Keberlanjutan Perikanan Tangkap di Provinsi Jawa Tengah", JUPITER Journal, 2025).

Begitu pula dengan rumput laut, komoditas unggulan yang tumbuh subur di hampir seluruh kecamatan Pangkep dengan kualitas bagus. Sayangnya, di wilayah Pangkep masih belum ada yang melakukan industri pengolahan rumput laut itu sendiri, sehingga tanpa adanya industri pengolahan, harga jual terus merosot (Muhammad Alias, Politani Pangkep, dikutip dalam Mongabay Indonesia, 4 September 2024). Rumput laut yang sejatinya diminati industri kecantikan, makanan, dan farmasi di seluruh dunia, dijual mentah kepada pengepul dengan harga yang ditentukan sepihak.

Masalahnya bukan pada kualitas produk. Masalahnya adalah petani dan nelayan tidak tahu siapa pembelinya, dan pembeli tidak tahu di mana mencari produknya.

Rantai Pasok Digital: Bukan Teknologi Canggih, Tapi Jembatan Sederhana

Istilah "Digital Supply Chain" atau rantai pasok digital mungkin terdengar rumit. Tapi intinya sangat sederhana:

Bagaimana caranya agar petani di Pangkep bisa terhubung langsung ke pembeli industri, tanpa harus melalui tiga atau empat perantara?

Bayangkan seperti ini: selama ini, kalau Anda ingin memesan taksi, Anda harus menelepon agen, agen menghubungi sopir, sopir baru datang ke lokasi Anda. Sekarang, dengan aplikasi ojek online, Anda langsung terhubung ke sopir terdekat. Harganya lebih transparan, lebih cepat, dan kedua pihak sama-sama diuntungkan.

Prinsip yang sama bisa diterapkan untuk rantai pasok ikan bandeng, rumput laut, dan hasil tambak lainnya di Pangkep.

Seperti Apa Bentuknya untuk Petani Pangkep?

Di sinilah bagian yang paling penting: teknologi ini tidak harus berupa website atau aplikasi rumit yang susah dipelajari.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa WhatsApp sudah menjadi platform yang paling memudahkan konsumen di Pangkep, terutama bagi UMKM kategori makanan dan minuman (Penelitian kualitatif model triangulasi terhadap pelaku UMKM Pangkajene Kepulauan, diterbitkan dalam Jurnal Yuridis UNAJA, Desember 2023). Inilah pintu masuk yang paling realistis, karena tidak perlu belajar teknologi baru.

Tahap 1 — Mulai dari WhatsApp (Hari Ini Bisa Dimulai)

Model paling sederhana adalah membentuk grup WhatsApp terstruktur yang menghubungkan tiga pihak:

  • Petani/nelayan yang punya hasil panen atau tangkapan

  • Koordinator desa yang bertugas menjembatani dan mengonfirmasi stok

  • Pembeli industri — restoran, hotel, pengolah makanan, atau eksportir di Makassar dan sekitarnya

Cara kerjanya mudah: Pak Rasyid foto ikan bandeng hasil panennya, kirim ke grup lengkap dengan berat dan lokasi. Koordinator desa mengonfirmasi dan meneruskan ke pembeli. Pembeli memesan langsung. Tidak ada perantara yang mengambil margin, tidak ada informasi yang disembunyikan.

Praktik koordinasi serupa sudah dilakukan di sentra perikanan lain di Indonesia — misalnya di Sendangbiru, Jawa Timur, di mana WhatsApp Group menjadi kanal utama koordinasi nelayan dengan pembeli dalam upaya penguatan manajemen pemasaran hasil tangkap (Abdi Geomedisains, Jurnal Pengabdian Masyarakat UMS, Vol. 1 No. 2, Januari 2021).

Tahap 2 — WhatsApp Pintar (Bot Otomatis)

Setelah terbiasa, sistem bisa ditingkatkan sedikit. Bayangkan sebuah "asisten otomatis" di WhatsApp yang bekerja 24 jam:

  • Pak Rasyid kirim foto ikan + ketik angka berat panen → sistem otomatis mencatat stok

  • Sistem mengirim notifikasi ke pembeli yang sesuai: "Ada stok 200 kg bandeng segar dari Labakkang, tersedia hari ini"

  • Pembeli konfirmasi order lewat chat → sistem kirim notif jadwal penjemputan ke Pak Rasyid

Pak Rasyid tidak perlu belajar aplikasi baru. Bagi dia, rasanya tetap seperti kirim pesan WhatsApp biasa. Pendekatan bertahap seperti ini sejalan dengan rekomendasi para peneliti yang menekankan pentingnya platform digital berbasis mobile yang memungkinkan komunikasi langsung antara nelayan dan pembeli sebagai cara mengurangi peran tengkulak dan meningkatkan transparansi harga (Ramadhani et al., JUPITER Journal, 2025).

Tahap 3 — Dashboard untuk Pembeli Industri

Sementara petani cukup dengan WhatsApp, pembeli industri mendapatkan tampilan yang lebih lengkap: sebuah halaman web atau aplikasi yang menunjukkan ketersediaan komoditas Pangkep secara langsung — jenis produk, jumlah stok, lokasi petani, dan harga yang disepakati bersama.

Restoran di Makassar bisa memesan 50 kg bandeng segar dari Pangkep dengan tiga klik, dan Pak Rasyid mendapat notifikasi pesanan langsung di WhatsApp-nya.

Inilah rantai pasok digital: setiap pihak menggunakan alat yang paling nyaman baginya, tapi semuanya terhubung dalam satu sistem.

Kenapa Ini Penting Sekarang?

Ada beberapa alasan mengapa momen ini adalah waktu yang tepat untuk Pangkep.

Pertama, infrastruktur sudah mulai ada. Bakti Kominfo telah membangun 14 titik akses internet di wilayah Pangkep (Mutsla Adlan, Penanggung Jawab Sektor UMKM Bakti Kominfo, dikutip dalam Detik.com, 6 Desember 2023). Artinya, konektivitas yang dulu menjadi hambatan utama, kini mulai tersedia.

Kedua, pelatihan digital sudah dimulai. Program Digital Entrepreneurship Academy (DEA) — hasil kerja sama BBPSDMP Kominfo Makassar, Bakti Kominfo, Bea Cukai Makassar, dan Pemda Pangkep — hadir di Pangkep pada 28–29 November 2023 dan berhasil melatih 150 pelaku UMKM (Detik.com, 6–8 Desember 2023). Ini adalah benih yang perlu terus disiram.

Ketiga, Indonesia Timur tertinggal jauh dan ini adalah peluang. Data Kementerian Koperasi dan UKM (2023) menunjukkan bahwa 59% UMKM digital terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara wilayah Indonesia bagian Timur hanya mencatat 9% keterlibatan aktif dalam ekonomi digital. Ini bukan kelemahan — ini adalah peluang. Siapa yang bergerak lebih awal, dialah yang akan menikmati keuntungan lebih besar.

Keempat, ada model nasional yang bisa dicontoh. Startup bernama FishLog telah membuktikan bahwa menghubungkan nelayan, pengepul, dan pembeli industri melalui marketplace B2B digital bisa menghasilkan ekosistem bernilai sekitar Rp50 miliar, menjangkau lebih dari 40 kota pesisir di Indonesia, dan membuka lebih dari 500 pekerjaan baru (IPB University News, Maret 2023; Kompas.com, 3 November 2022).

Tantangan yang Harus Dihadapi Jujur

Menulis tentang peluang tanpa membicarakan tantangan adalah tidak jujur. Ada beberapa hambatan nyata yang harus diakui:

  • Literasi digital yang masih sangat rendah. Berdasarkan penilaian lapangan oleh Tasmil, PIC Digital Entrepreneurship Academy dari BBPSDMP Kominfo Makassar, literasi digital UMKM di Pangkep masih kurang, persentasenya hampir 100% yang belum melek digital (Detik.com, 6 Desember 2023). Ini bukan alasan untuk tidak bergerak, tapi ini berarti pendekatan harus bertahap, sabar, dan tidak memaksakan teknologi yang terlalu jauh dari keseharian mereka.

  • Kepercayaan terhadap sistem baru. Sebagian besar petani kecil di Indonesia masih bergantung pada tengkulak atau pengepul untuk memasarkan hasil pertaniannya karena keterbatasan akses pasar dan fasilitas penyimpanan (Jurnal Agroscience, Universitas Suryakancana, 2020). Membangun kepercayaan butuh waktu dan bukti nyata bahwa sistem ini benar-benar menguntungkan mereka.

  • Infrastruktur yang belum merata. Meski 14 titik internet sudah dibangun, area kepulauan Pangkep yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil di Kecamatan Liukang Tupabiring, Liukang Tupabiring Utara, dan Liukang Tangaya masih membutuhkan perluasan jaringan yang lebih konsisten dan merata.

  • Tantangan cold chain. Ikan dan rumput laut adalah komoditas yang mudah rusak. Startup FishLog sendiri mengakui bahwa masalah utama bukan hanya digitalisasi, tapi juga ketersediaan cold storage yang minim , menyebabkan kualitas ikan menurun di setiap rantai pasok dan membuat sistem tidak efisien (CEO FishLog Bayu Anggara, dikutip dalam alumni.ipb.ac.id, 2023). Sistem digital yang menghubungkan petani ke pembeli hanya akan berhasil kalau dibarengi dengan perbaikan sistem penyimpanan dan logistik dingin.

Namun semua tantangan ini bukan dinding — ini adalah peta jalan yang perlu dikerjakan satu per satu.

Siapa yang Perlu Bergerak?

Gagasan ini tidak bisa berjalan sendiri. Ada beberapa pihak yang perannya sangat penting:

  • Pemerintah Kabupaten Pangkep perlu menjadikan digitalisasi rantai pasok sebagai program prioritas. Visi dan misi Pemkab Pangkep sendiri sudah menyebutkan komitmen untuk "mewujudkan perekonomian daerah yang maju dan berdaya saing berbasis pada potensi keunggulan lokal, seperti pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata, serta UMKM" (pangkepkab.go.id, Visi Misi Bupati/Wakil Bupati). Kini saatnya visi itu diwujudkan dengan langkah konkret digital.

  • Perguruan tinggi dan peneliti perlu turun ke lapangan. Politeknik Pertanian Negeri Pangkep adalah aset lokal yang sangat berharga. Llembaga ini bahkan sudah berkolaborasi dengan Pemkab dalam mengembangkan sistem informasi berbasis Geo Artificial Intelligence (GeoAI) untuk pemetaan potensi pertanian dan perikanan Pangkep (pangkepkab.go.id, 27 Agustus 2025). Langkah berikutnya adalah menerjemahkan data ini menjadi sistem supply chain yang bisa digunakan langsung oleh petani.

  • Komunitas petani dan nelayan perlu mulai membangun kelompok yang terorganisir. Satu koordinator digital per kelompok tani sudah cukup sebagai langkah awal. Dia yang belajar teknologi, dan petani lain cukup lapor ke dia. Model ini sudah terbukti efektif dalam berbagai program pemberdayaan nelayan di Indonesia.

  • Sektor swasta — terutama restoran, hotel, dan pengolah makanan di Makassar — perlu melihat Pangkep sebagai mitra pemasok strategis. Sektor industri pengolahan sendiri sudah menjadi kontributor terbesar PDRB Pangkep dengan nilai Rp14,91 triliun pada tahun 2023, tumbuh 10,3% dari tahun sebelumnya (Databoks/Katadata, 5 Januari 2025). Ada pasar besar yang menunggu — dan hubungan langsung dengan sumber produksi adalah keunggulan kompetitif yang nyata.

Penutup: Teknologi Bukan Tujuan, tapi Jembatan

Teknologi informasi bukanlah solusi ajaib. Tapi dalam konteks Pangkep, ia adalah jembatan yang selama ini hilang. Jembatan yang menghubungkan kerja keras petani tambak di Labakkang dengan meja makan restoran di Makassar, atau dengan pembeli di luar negeri yang mencari rumput laut berkualitas.

Pak Rasyid tidak perlu menjadi ahli teknologi. Ia cukup mengambil foto hasil panennya dan mengirimnya ke WhatsApp — seperti yang sudah biasa ia lakukan dengan keluarganya.

Yang perlu berubah bukan cara Pak Rasyid bekerja. Yang perlu berubah adalah sistem yang menentukan siapa yang berhak menikmati hasil kerjanya.

Dan sistem itu, perlahan tapi pasti, bisa dibangun dengan teknologi yang sederhana, niat yang tulus, dan kerja sama yang nyata.

Pangkep punya lautnya. Pangkep punya lahannya. Kini saatnya Pangkep punya sistemnya.

Daftar Referensi

[1] Abd Haris, Kadis Kop UKM Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pangkep. Dikutip dalam: "Pangkep Menatap Peluang UMKM Go Digital". Detik.com, 6 Desember 2023. https://inet.detik.com/telecommunication/d-7074735/pangkep-menatap-peluang-umkm-go-digital

[2] Muhammad Alias, Dosen Manajemen Pembenihan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Dikutip dalam: "Nasib Petani Rumput Laut yang Terombang-ambing". Mongabay Indonesia, 4 September 2024. https://www.mongabay.co.id/2024/09/04/nasib-petani-rumput-laut-yang-terombang-ambing/

[3] Triyanti, R. "Kajian Sosial Ekonomi Pelelangan Bandeng di Kabupaten Pangkajene Kepulauan". Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Balitbang KKP, 2014. https://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/sosek/article/view/5674

[4] Ramadhani, M.A., Bachtiar, I., & Sabian, S.A. "Penguatan Supply Chain Management untuk Keberlanjutan Perikanan Tangkap di Provinsi Jawa Tengah". JUPITER: Journal of Computer & Information Technology, Vol. 6 No. 1, 2025. https://www.researchgate.net/publication/389719022

[5] Nujum, M., dkk. "Implementasi Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik Dalam Pemasaran Digital Produk UMKM di Kabupaten Pangkajene Kepulauan". Jurnal Yuridis UNAJA, Desember 2023. https://ejournal.unaja.ac.id/index.php/JYU/article/view/970

[6] "UMKM di Pangkep Antusias Go Digital, Menyongsong Go International". Detik.com, 7 Desember 2023. https://inet.detik.com/telecommunication/d-7076844/umkm-di-pangkep-antusias-go-digital-menyongsong-go-international

[7] "Mengenal Digital Entrepreneurship Academy, Pelatihan UMKM di Pangkep". Detik.com, 8 Desember 2023. https://inet.detik.com/telecommunication/d-7078360/mengenal-digital-entrepreneurship-academy-pelatihan-umkm-di-pangkep

[8] Bayu Anggara, CEO & Co-Founder FishLog. "FishLog, Startup Alumni IPB University Siap Perkuat dan Perluas Jaringan Industri Perikanan Indonesia di Tahun 2023". IPB University News, Maret 2023. https://ipb.ac.id/news/index/2023/03/fishlog-startup-alumni-ipb-university-siap-perkuat-dan-perluas-jaringan-industri-perikanan-indonesia-di-tahun-2023

[9] "Startup Perikanan FishLog Peroleh Pendanaan Rp 50 Miliar". Kompas.com, 3 November 2022. https://money.kompas.com/read/2022/11/03/185723826/startup-perikanan-fishlog-peroleh-pendanaan-rp-50-miliar

[10] "Penguatan Kelembagaan Dan Pemasaran Produksi Bumdes — E-ComDes Pitusunggu". Jurnal IPMAS: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bagi Masyarakat, Pusdig. https://pusdig.my.id/ipmas/article/download/106/100

[11] "Upaya Penguatan Manajemen Pemasaran Hasil Tangkap Nelayan Sendangbiru". Abdi Geomedisains: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Vol. 1 No. 2, Januari 2021. http://journals2.ums.ac.id/index.php/abdigeomedisains/article/download/199/75

[12] Lisarini, E. "Kepentingan Keberadaan Pengepul dan Kepuasan Petani akan Kinerjanya sebagai Agen Pemasar". AGROSCIENCE, Universitas Suryakancana, Desember 2020. https://jurnal.unsur.ac.id/agroscience/article/view/1154

[13] "Sektor Utama Penggerak Perekonomian di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan pada 2023". Databoks/Katadata, 5 Januari 2025. https://databoks.katadata.co.id/ekonomi-makro/statistik/817d3ee9c0fef38/sektor-utama-penggerak-perekonomian-di-kabupaten-pangkajene-dan-kepulauan-pada-2023

[14] Pemerintah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Visi dan Misi Bupati/Wakil Bupati Pangkep. https://pangkepkab.go.id/visi-misi

[15] "Pemkab Pangkep Manfaatkan Sistem Informasi GeoAI untuk Optimalkan Potensi Pertanian". pangkepkab.go.id, 27 Agustus 2025. https://www.pangkepkab.go.id/pemkab-pangkep-manfaatkan-sistem-informasi-geoai-untuk-optimalkan-potensi-pertanian

[16] Profil Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Provinsi Sulawesi Selatan. https://dpmptsp.pangkepkab.go.id/profil-dinas/

[17] Bayu Anggara, CEO FishLog. "Alumnus IPB University Berhasil Buka Potensi Sumber Daya Perikanan Indonesia di Pasar Ekspor Global". Alumni IPB Pedia, 2023. https://www.ipb.ac.id/news/index/2023/03/bayu-mukti-anggara-alumnus-ipb-university-berhasil-buka-potensi-sumber-daya-perikanan-indonesia-di-pasar-ekspor-global/95ed6987e57e395a480b11f9b6433101/

Kontak

Hubungi kami untuk pertanyaan atau masukan

Email

Telepon

halocika@pangkephub.com

© 2026. All rights reserved.